Sejarah Berdirinya Yayasan Yabahit Cerdas Sejahtera

peletakan batu pertama yabahit

Berawal dari Niat Baik, Tumbuh Menjadi Gerakan Kepedulian Sejarah berdirinya Yayasan Yabahit Cerdas Sejahtera berawal pada bulan Desember 2020, ketika Bapak H. Usman Musthafa membeli sebidang tanah seluas 680 meter persegi. Pada awalnya, tanah tersebut direncanakan untuk dibagi menjadi delapan kavling atau bagian yang kemudian dikenal dengan nama Kavling Umroh. Seiring berjalannya waktu, muncul sebuah pemikiran dan niat yang lebih besar untuk menjadikan sebagian tanah tersebut sebagai sarana kemanfaatan sosial bagi masyarakat. Bapak H. Usman Musthafa kemudian memutuskan untuk mengalihkan peruntukan sebagian tanah seluas 400 meter persegi untuk diwakafkan kepada sebuah yayasan sosial, agar dapat dimanfaatkan bagi kegiatan kemanusiaan, pendidikan, dan keagamaan. Niat baik tersebut menjadi titik awal lahirnya sebuah gagasan besar yang tidak hanya berorientasi pada kepemilikan aset, tetapi juga pada kebermanfaatan jangka panjang bagi sesama. Musyawarah dan Semangat Kebersamaan Untuk mewujudkan niat tersebut, Bapak H. Usman Musthafa mulai menghubungi rekan-rekan dari komunitasnya untuk berdiskusi, bertukar gagasan, serta membangun kesepahaman mengenai rencana pendirian sebuah yayasan sosial. Gagasan ini mendapat ruang untuk berkembang melalui semangat kebersamaan, kepedulian, dan keinginan untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya bagi anak-anak yatim dan mereka yang membutuhkan perhatian serta pendampingan. Dalam proses perintisan tersebut, sejumlah tokoh dan rekan yang turut terlibat dalam diskusi dan pengembangan gagasan ini antara lain: Selain nama-nama tersebut, terdapat pula rekan dan pihak lainnya yang turut menjadi bagian dari proses diskusi dan perintisan gagasan ini. Keterlibatan berbagai pihak tersebut mencerminkan bahwa sebuah gerakan sosial yang berkelanjutan tidak lahir dari satu orang semata, melainkan tumbuh melalui niat baik, musyawarah, dukungan, dan semangat untuk saling menguatkan. Lahirnya Nama Yabahit Dari rangkaian diskusi dan semangat kebersamaan tersebut, lahirlah nama YABAHIT, sebuah nama yang mengandung nilai dan filosofi: Yakin Berbagi Harta, Ilmu dan Tenaga. Filosofi ini menjadi landasan semangat untuk mengajak setiap orang mengambil bagian dalam kebaikan sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang dimiliki. Berbagi tidak semata-mata tentang materi, tetapi juga tentang ilmu yang bermanfaat, tenaga yang dicurahkan, waktu yang diberikan, serta doa yang dipanjatkan dengan tulus. Seiring dengan perkembangan gagasan dan kebutuhan untuk membangun wadah sosial yang lebih terarah, nama tersebut kemudian menjadi Yayasan Yabahit Cerdas Sejahtera. Nama ini mencerminkan harapan agar setiap kegiatan yang dijalankan tidak hanya menghadirkan kepedulian, tetapi juga mendorong lahirnya generasi yang cerdas, berakhlak, mandiri, dan memiliki kehidupan yang lebih sejahtera. Melanjutkan Amanah untuk Kemanfaatan Bersama Sejak gagasan awal tersebut tumbuh, Yabahit terus berikhtiar membangun fondasi kepedulian melalui kegiatan sosial, pendidikan, dan keagamaan. Perhatian terhadap anak-anak yatim menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan pengabdian ini, disertai upaya membangun lingkungan yang mendukung pembelajaran Al-Qur’an, pembinaan akhlak, dan pemenuhan kebutuhan dasar. Rencana pemanfaatan tanah wakaf juga menjadi bagian penting dalam perjalanan Yabahit. Tanah tersebut diharapkan dapat mendukung pembangunan pondok sebagai tempat pembinaan anak-anak yatim, khususnya dalam pendidikan dan penghafalan Al-Qur’an. Perjalanan Yabahit merupakan ikhtiar yang terus bertumbuh. Dengan dukungan para pengurus, relawan, donatur, dan masyarakat, Yabahit berkomitmen untuk terus menjaga amanah serta menghadirkan manfaat yang nyata dan berkelanjutan. YABAHIT CERDAS SEJAHTERA Yakin Berbagi Harta, Ilmu dan Tenaga. Dari sebuah niat baik, tumbuh sebuah harapan. Dari kebersamaan, lahir sebuah gerakan. Semoga setiap langkah Yabahit senantiasa menjadi jalan kebaikan, membawa keberkahan, dan memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.